Term

Artikel dalam blog ini adalah karya asli penulis. Beberapa artikel pernah penulis unggah diblog yang lain sebelumnya, yang pada saat ini blog tersebut telah penulis hapus. Disamping itu, sebagian juga merupakan pindahan tulisan dari web geo.fis.unesa.ac.id mengingat keterbatasan space pada web tersebut. Pembaca diijinkan untuk menyitir artikel dalam blog ini, tetapi wajib mencantumkan nama blog ini sebagai sumber referensi untuk menghindari tindakan plagiasi. Terimakasih

Wednesday, October 9, 2013

Waspada mengkonsumsi air wilayah karst pasca Idul Adha

Judul di atas bukan suatu provokasi ataupun bermaksud menakut-nakuti. Hal ini saya tulis semata untuk meningkatkan kewaspadaan kita terutama bagi yang selama ini tinggal di kawasan karst seperti Gunungkidul, Gresik, Pati, dan lainnya.
Waspada terhadap apa ???? yaitu waspada terhadap bahaya bakteri koliform yang diakibatkan oleh proses pencucian jerohan hewan kurban. Sudah menjadi kebiasaan sebagian besar masyarakat wilayah karst ketika Idul Adha tiba, mereka mencuci jerohan hewan kurban di berbagai saluran atau sungai permukaan ataupun telaga dilingkungannya.
Aktifitas sebagian warga dalam mencuci jerohan hewan korban

Proses pembuangan kotoran hewan kurban di saluran air permukaan

Kondisi air pada saluran permukaan tercemar kotoran hewan

Saluran mengalir menuju inlet sungai-sungai bawah tanah

Cara ini memang paling mudah untuk dilakukan daripada harus mengambil air itu ke tempat pemotongan. Namun dibalik dari aktifitas itu, proses pencucian tersebut tanpa disadari menambah akumulasi pencemar berupa kotoran hewan kurban tersebut ke dalam tubuh air. Sementara itu, secara alamiah air tersebut akan masuk dan bergabung ke dalam sistem sungai bawah permukaan yang akan digunakan untuk air minum. Air akan masuk melalui lubang-lubang (sinkhole) ataupun melalui sistem difuse batuan karst. Seperti diketahui bersama, kemampuan filtrasi wilayah tersebut sangat rendah sehingga memungkinkan kandungan mikrobial pada tubuh air tersebut masih hidup ketika air tersebut diangkat sebagai air minum.
Tubuh air di permukaan yang masuk kedalam wilayah karst (sungai allogenik) memberikan pasokan air ke dalam jaringan sungai bawah permukaan di daerah karst dengan kecepatan aliran yang tinggi. Aliran tersebut mampu menyebarkan berbagai kontaminan seperti kotoran yang berasal dari jerohan hewan kurban tersebut dengan kecepatan penyebaran yang tinggi pula. Sistem jaringan sungai bawah permukaan akan terus mengakumulasi konsentrasi kontaminan sejalan dengan bertambahnya jumlah jaringan yang bergabung pada sistem tersebut. Akibatnya, jika semua jaringan pemasok tersebut mengangkut bahan pencemar, secara otomatis akan terjadi peningkatan konsentrasi bahan pencemar tersebut yang terus bertambah.
Lalu bagaimana sebaiknya cara pencucian hean kurban tersebut ???
Mengingat pada karakteristik hidrologis dan hidrogeologis kawasan karst maka sebaiknya pencucian diusahakan untuk tidak secara langsung pada suatu aliran ataupun telaga karst. Pembuangan kotoran yang ada harus sejauh mungkin dari sistem aliran yang ada atau telaga, sehingga tidak memungkinkan kotoran tersebut masuk ke tubuh air dengan cepat. Sangat baik jika pembuangan kotoran dilakukan pada tempat yang memiliki lapisan tanah yang tebal dan ditimbun sehingga memberikan kesempatan terjadinya proses penguraian dan mematikan berbagai bakteri merugikan yang ada.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah barokah ibadah kurban kita.... Amin...