Term

Artikel dalam blog ini adalah karya asli penulis. Beberapa artikel pernah penulis unggah diblog yang lain sebelumnya, yang pada saat ini blog tersebut telah penulis hapus. Disamping itu, sebagian juga merupakan pindahan tulisan dari web geo.fis.unesa.ac.id mengingat keterbatasan space pada web tersebut. Pembaca diijinkan untuk menyitir artikel dalam blog ini, tetapi wajib mencantumkan nama blog ini sebagai sumber referensi untuk menghindari tindakan plagiasi. Terimakasih

Sunday, October 12, 2014

Tanah Gunungsewu bukan material asli setempat



Ketika berjalan di wilayah karst Gunungsewu, sering terlihat perbukitan dengan lapisan tanah yang relatif tidak tebal. Satu hal yang menarik adalah terdapatnya dua golongan besar warna tanah pada wilayah tersebut, yaitu golongan warna tanah merah dan golongan warna tanah hitam. Secara umum nampak jelas perbedaan warna tanah tersebut. Golongan warna tanah hitam mendiami sebagian besar wilayah di lingkungan formasi Kepek, sementara golongan warna merah sebagian tersebar di bagian perbukitan formasi Wonosari.

Golongan fraksi tanah merah
Golongan fraksi tanah hitam
Secara vertikal juga terdapat perbedaan tingkat kecerahan warna tanah. Tanah pada posisi puncak dan lereng perbukitan nampak lebih kelam, sementara tanah di dasar lembah nampak lebih merah.


Tanah pada dasar lembah (kiri) tanah pada puncak bukit (kanan)

Hal ini sejalan dengan temuan dari Mulyanto (2008a, 2008b), dan Mulyanto dan Surono (2009). Disebutkan bahwa faktor topografi dan porositas sekunder menjadi pengontrol warna tanah tersebut. Warna tanah tidak dipengaruhi oleh kandungan mineral besi dan mangan seperti pada umumnya, namun lebih karena intensitas pelindian yang efektif.
Lebih jauh Mulyanto (2008a) menyatakan bahwa tanah-tanah merah tersebut bukan berasal dari sisa pelarutan batu gamping (kecuali napal) tetapi berasal dari material volkanik. Dugaan tersebut  didasarkan oleh fakta-fakta seperti :
·         batas yang tegas antara tanah dengan batuan yang membawahinya,
·         komposisi mineral pada batuan mayoritas berupa kalsium karbonat, sedikit kuarsa, sangat sedikit oksida besi dan tidak memperlihatkan mineral silikat sebagai komponen pembentuk tanah.
·        Pada fraksi pasir memperlihatkan labradorit dan mafik, sementara itu pada fraksi lempung menunjukkan adanya feldspar dan kritobalik. Komposisi mineral pada fraksi pasir ataupun lempung tersebut adalah merupakan mineral volkanik.
Jika tanah yang ada pada kawasan karst Gunungsewu adalah bukan dari hasil lapukan batuan yang mendasarinya (batuan yang membentuk bentang lahan karst), tetapi berasal dari sumber lain, sementara itu sifat karst yang memiliki porositas sekunder besar, sangat memungkinkan terjadinya proses penghilangan tanah penutup batuan karst tersebut. Proses ini bisa terjadi oleh akibat erosi yang berlebihan oleh agen air pada kondisi tanah tidak tertutup. Bahaya jangka panjang tentulah dapat terjadinya desertifikasibatuan karst di wilayah Gunungsewu, dimana seluruh bentang lahan karst berubah menjadi padang batu. Apalagi pada saat ini banyak terjadi aktifitas pembukaan epikarst oleh aksi penambangan batu gamping. MARI INI SEMUA KITA RENUNGKAN .......!!!!!!

Pustaka :
Mulyanto, D., 2008a. Studi ketidakselarasan antara tanah dan batuan karbonat yang membawahinya pada jalur Baron-Wonosari Gunungkidul, Agrin. Vol. 12. No. 2. 

Mulyanto, D., 2008b. Kajian kelimpahan mineral-mineral tanah pada mikro toposekuen Karst Gunungsewu Pegunungan Selatan. J. Tanah Trop. Vol. 13. No 2. Hal. 161-170.

Mulyanto, D., dan Surono, 2009. Pengaruh topografi dan kesarangan batuan karbonat terhadap warna tanah pada jalur Baron-Wonosari Kabupaten Gunungkidul, DIY. Forum Geografi. Vol. 23. No. 2. Hal. 181-195.

2 comments:

Anonymous said...

Artikel yang menarik dan bagus, selanjutnya dari mana asal tanah itu?

Sum said...

Jos, pas mantap artikelnya
Kunjungi juga www.mapsgps.blogspot.com